1. Definisi

Al-hujub dalam bahasa Arab bermakna ‘penghalang’. Adapun pengertian al-hujub menurut kalangan ulama faraid adalah menggugurkan hak ahli waris untuk menerima waris, baik secara keseluruhannya atau sebagian saja disebabkan adanya orang yang lebih berhak untuk menerimanya

2. Macam-macam Al Hujub

Al-hujub terbagi dua, yakni al-hujub bil washfi (sifat/julukan), dan al-hujub bi asy-syakhshi (karena orang lain).

a. Al-hujub bil washfi berarti orang yang terkena hujub tersebut terhalang dari mendapatkan hak waris secara keseluruhan, misalnya orang yang membunuh pewarisnya atau murtad. Hak waris mereka menjadi gugur atau terhalang.

b. Sedangkan al-hujub bi asy-syakhshi yaitu gugurnya hak waris seseorang dikarenakan adanya orang lain yang lebih berhak untuk menerimanya. Al-hujub bi asy-syakhshi terbagi dua: hujub hirman dan hujub nuQShan. Hujub hirman yaitu penghalang yang menggugurkan seluruh hak waris seseorang.

3. Ahli waris yang tidak terjena hujub

> Anak kandung laki-laki, anak kandung perempuan, ayah, ibu, suami dan istri

> Sedangkan ada enam belas orang yang dapat terkena hujub diantaranya sebelas laki-laki dan lima dari pihak perempuan.

# Ashabul furudh

Ashabul furudh adalah para ahli waris yang nilai haknya telah ditetapkan secara langsung dan mendapatkan harta waris terlebih dahulu, sebelum para ashabah.

Jumlah bagian yang telah ditentukan Al-Qur’an ada enam macam, yaitu :

  • setengah (1/2)
  • seperempat (1/4)
  • seperdelapan (1/8)
  • dua per tiga (2/3)
  • sepertiga (1/3)
  • seperenam (1/6).

# Ashabah

1. definisi

Kata ‘ashabab dalam bahasa Arab berarti kerabat seseorang dari pihak bapak

pengertian ‘ashabah menurut istilah para fuqaha ialah : ahli waris yang tidak disebutkan banyaknya bagiannya dengan tegas.

Sebagai contoh, anak laki-laki, cucu laki-laki keturunan anak laki-laki, saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah, dan paman (saudara kandung ayah). Kekerabatan mereka sangat kuat dikarenakan berasal dari pihak ayah.

2. Macam-macam Ashabah

‘Ashabah terbagi dua yaitu: ‘ashabah nasabiyah (karena nasab) dan ‘ashabah sababiyah (karena sebab).