"Sesungguhnya Allah telah menawarkan amanah itu
 kepada langit, bumi dan bebukitan, namun semuanya
 menolak untuk menanggungnya karena khawatir meng-
 khianatinya, lalu dipikulah amanah itu oleh manu-
 sia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh"
 ( al-Ahzab: 72)


 Seperti juga kewajiban memelihara amanah dari manusia,
maka memelihara amanah dari Allah, Tuhan manusia, adalah
juga kewajiban yang mesti dijalankan manusia yang beriman.
Adalah tidak logis kalau seorang manusia menjaga amanah
dari sesamanya namun mengingkari amanah Allah. Bahkan da-
lam sudut pandang aqidah ini, menjalankan amanah yang da-
tang dari Allah adalah kemuliaan, karena Allah telah mem-
percayai kita, Allah mengakui kelebihan kita dibanding
makhluk yang lain. Suatu karunia yang amat besar.

 Tugas itu, amanah itu adalah untuk menegakkan diinullah
di alam ini. Tugas yang teramat berat, langit, bumi, dan
bebukitan menolak tugas ini. "sesungguhnya Kami akan menu-
runkan perkataan yang berat" (al-Muzzammil: 5). Perkataan
yang berat, berat dalam arti konsekuensi yang harus diteri-
ma dalam meniti jalan itu.

 Itulah jalan kemuliaan, jalan yang lurus, jalan orang-
orang yang diberi ni'mat, jalan para Nabi, shiddiqiin, syuhada
dan para shalihiin, jalan yang sukar lagi mendaki, jalan ke-
taqwaan.

 Amanah itu mesti dipenuhi agar tidak ada lagi fitnah,
agar tidak ada lagi penyembahan manusia pada manusia, penyem-
bahan manusia pada materi dan kekuasaan, pada pangkat dan
nafsu syahwat. Semua penyembahan hanya untuk Allah Rabbal
'alamiin. Dalam skala individual amanah ini menjadi tanggung
jawab pribadi Muslim. Dalam skala global adalah menjadi tugas
qiyadah islamiyah (kepemimpinan islam) untuk mewujudkannya.

 Tugas dalam skala global itu kini praktis terbengkalai.
Bukan hanya fitnah menghegemoni jagad, namun kondisi ummat
sangat memperihatinkan. Umat Islam terhina dan dihinakan,
baik di Bosnia maupun Palestina. Tiada qiadah islamiyah yang
mempersatukan, membela, dan menegakkan izzah (harga diri)
Islam dan ummatnya. Inilah azab atas kelalaian menjaga amanah
Allah.

 " Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan bodoh "

zalim terhadap dirinya sendiri dan bodoh terhadap diin yang
telah dituntunkan Allah untuknya.

 Kini, tak ada waktu lagi untuk berfalsafah, kenapa mesti
menerima amanah Allah itu dsb-dsb.? Yang perlu adalah menyambut
amanah ini mewujudkan qiadah Allah di Bumi dalam semangat dan
kesiapan sami'na wa atho'ana (kami dengar dan kami taat).

Hasbunallah wa ni'mal wakiil.