PATI-PESANTENAN

Sejarah Kabupaten Pati berpangkal tolak dari beberapa gambar yang terdapat pada Lambang Daerah Kabupaten Pati yang sudah disahkan dalam Peraturan Daerah No. 1 Tahun 1971 yaitu Gambar yang berupa: “keris rambut pinutung dan kuluk kanigara”. Menurut cerita rakyat dari mulut ke mulut yang terdapat juga pada kitab Babat Pati dan kitab Babat lainnya dua pusaka yaitu “keris rambut pinutung dan kuluk kani” merupakan lambang kekuasan dan kekuatan yang juga merupakan simbul kesatuan dan persatuan. Barangsiapa yang memiliki dua pusaka tersebut, akan mampu menguasai dan berkuasa memerintah di Pulau Jawa. Adapun yang memiliki dua pusaka tersebut adalah Raden Sukmayana penggede Majasemi andalan Kadipaten Carangsoka. Kevakuman Pemerintahan di Pulau Jawa Menjelang akhir abad ke XIII sekitar tahun 1292 Masehi di Pulau Jawa vakum penguasa pemerintahan yang berwibawa. Kerajaan Pajajaran mulai runtuh, Kerajaan Singasari surut, sedang Kerajaan Majapahit belum berdiri. Di Pantai utara Pulau Jawa Tengah sekitar Gunung Muria bagian Timur muncul penguasa lokal yang mengangkat dirinya sebagai adipati, wilayah kekuasaannya disebut kadipaten. Ada dua penguasa lokal di wilayah itu yaitu. 1. Penguasa Kadipaten Paranggaruda, Adipatinya bernama Yudhapati, wilayah kekuasaannya meliputi sungai Juwana ke selatan, sampai pegunungan Gamping Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Grobogan. Mempunyai putra bernama Raden Jasari. 2. Penguasa Kadipaten Carangsoka, Adipatinya bernama: Puspa Andungjaya, wilayah kekuasaannya meliputi utara sungai Juwana sampai pantai Utara Jawa Tengah bagian timur. Adipati Carangsoka mempunyai seorang putri bernama Rara Rayungwulan Kadipaten Carangsoka dan Paranggaruda Berbesanan Kedua Kadipaten tersebut hidup rukun dan damai, saling menghormati dan saling menghargai untuk melestarikan kerukunan dan memperkuat tali persaudaraan, Kedua adipati tersebut bersepakat untuk mengawinkan putra dan putrinya itu. Utusan Adipati Paranggaruda untuk meminang Rara Rayungwulan telah diterima, namun calon mempelai putri minta bebana agar pada saat pahargyan boja wiwaha daup (resepsi) dimeriahkan dengan pagelaran wayang dengan dalang kondang yang bernama “Sapanyana”. Untuk memenuhi bebana itu, Adipati Paranggaruda menugaskan penggede kemaguhan bernama Yuyurumpung agul-agul Paranggaruda. Sebelum melaksanakan tugasnya, lebih dulu Yuyurumpung berniat melumpuhkan kewibawaan Kadipaten Carangsoka dengan cara menguasai dua pusaka milik Sukmayana di Majasemi. Dengan bantuan uSondong Majerukn kedua pusaka itu dapat dicurinya namun sebelum dua pusaka itu diserahkan kepada Yuyurumpung, dapat direbut kembali oleh Sondong Makerti dari Wedari. Bahkan Sondong Majeruk tewas dalam perkelahian dengan Sondong Makerti. Dan Pusaka itu diserahkan kembali kepada Raden Sukmayana. Usaha Yuyurumpung untuk menguasai dan memiliki dua pusaka itu gagal. Walaupun demikian Yuyurumpung tetap melanjutkan tugasnya untuk mencari Dalang Sapanyana agar perkawinan putra Adipati Paranggaruda tidak mangalami kegagalan (berhasil dengan baik). Pada Malam pahargyan bojana wiwaha (resepsi) perkawinaan dapat diselenggarakan di Kadipaten Carangsoka dengan Pagelaran Wayang Kulit oleh Ki Dalang Sapanyana. Di luar dugaan pahargyan baru saja dimulai, tiba-tiba mempelai putri meninggalkan kursi pelaminan menuju ke panggung dan seterusnya melarikan diri bersama Dalang Sapanyana. Pahargyan perkawinan antara ” Raden Jasari ” dan ” Rara Rayungwulan ” gagal total. Adipati Yudhapati merasa dipermalukan, emosi tak dapat dikendalikan lagi. Sekaligus menyatakan permusuhan terhadap Adipati Carangsoka. Dan peperangan tidak dapat dielakkan. Raden Sukmayana dari Kadipaten Carangsoka mempimpin prajurit Carangsoka, mengalami luka parah dan kemudian wafat. Raden Kembangjaya (adik kandung Raden Sukmayana) meneruskan peperangan. Dengan dibantu oleh Dalang Sapanyana, dan yang menggunakan kedua pusaka itu dapat menghancurkan prajurit Paranggaruda. Adipati Paranggaruda, Yudhapati dan putera lelakinya gugur dalam palagan membela kehormatan dan gengsinya. Oleh Adipati Carangsoka, karena jasanya Raden Kembangjaya dikawinkan dengan Rara Rayungwulan kemudian diangkat menjadi pengganti Carangsoka. Sedang dalang Sapanyana diangkat menjadi patihnya dengan nama ” Singasari “. Kadipaten Pesantenan Untuk mengatur pemerintahan yang semakin luas wilayahnya ke bagian selatan, Adipati Raden Kembangjaya memindahkan pusat pemerintahannya dari Carangsoka ke Desa Kemiri dengan mengganti nama ” Kadipaten Pesantenan dengan gelar ” Adipati Jayakusuma di Pesantenan. Adipati Jayakusuma hanya mempunyai seorang putra tunggal yaitu ” Raden Tambra “. Setelah ayahnya wafat, Raden Tambra diangkat menjadi Adipati Pesantenan, dengan gelar ” Adipati Tambranegara “. Dalam menjalankan tugas pemerintahan Adipati Tambranegara bertindak arif dan bijaksana. Menjadi songsong agung yang sangat memperhatikan nasib rakyatnya, serta menjadi pengayom bagi hamba sahayanya. Kehidupan rakyatnya penuh dengan kerukunan, kedamaian, ketenangan dan kesejahteraannya semakin meningkat. Kabupaten Pati Untuk dapat mengembangkan pembangunan dan memajukan pemerintahan di wilayahnya Adipati Raden Tambranegara memindahkan pusat pemerintahan Kadipaten Pesantenan yang semula berada di desa Kemiri menuju ke arah barat yaitu, di desa Kaborongan, dan mengganti nama Kadipaten Pesantenan menjadi Kadipaten Pati. Dalam prasasti Tuhannaru, yang diketemukan di desa Sidateka, wilayah Kabupaten Majakerta yang tersimpan di musium Trowulan. Prasasti itu terdapat pada delapan Lempengan Baja, dan bertuliskan huruf Jawa kuna. Pada lempengan yang keempat antara lain berbunyi bahwa : ….. Raja Majapahit, Raden Jayanegara menambah gelarnya dengan Abhiseka Wiralanda Gopala pada tanggal 13 Desember 1323 M. Dengan patihnya yang setia dan berani bernama Dyah Malayuda dengan gelar “Rakai”, Pada saat pengumuman itu bersamaan dengan pisuwanan agung yang dihadiri dari Kadipaten pantai utara Jawa Tengah bagian Timur termasuk Raden Tambranegara berada di dalamnya. Pati Bagian dari Majapahit Raja Jayanegara dari Majapahit mengakui wilayah kekuasaan para Adipati itu dengan memberi status sebagai tanah predikan, dengan syarat bahwa para Adipati itu setiap tahun harus menyerahkan Upeti berupa bunga. Bahwa Adipati Raden Tambranegara juga hadir dalam pisuwanan agung di Majapahit itu terdapat juga dalam Kitab Babad Pati, yang disusun oleh K.M. Sosrosumarto dan S.Dibyasudira, diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1980. Halaman 34, Pupuh Dandanggula pada : 12 yang lengkapnya berbunyi : ….. Tan alami pajajaran kendhih, keratonnya ing tanah Jawa angalih Majapahite, ingkang jumeneng ratu, Brawijaya ingkang kapih kalih, ya Jaka Pekik wasta, putra Jaka Suruh, Kyai Ageng Pathi nama, Raden Tambranegara sumewa maring Keraton Majalengka. Artinya Tidak lama kemudian Kerajaan Pajajaran kalah, Kerajaan Tanah Jawa lalu pindah ke Majapahit, adapun yang menjadi rajanya adalah Brawijaya II, yaitu Jaka Pekik namanya, putranya Jaka Suruh. Pada waktu itu Kyai Ageng Pati, yang bernama Tambranegara menghadap ke Majalengka, yaitu Majapahit. Berdasarkan hal tersebut, jelaslah bahwa Raden Tambranegara Adipati Pati turut serta hadir dalam pisowanan agung di Majapahit. Pisowanan agung yang dihadiri oleh Raden Tambranegara ke Majapahit pada tanggal 13 Desember 1323, maka diperkirakan bahwa pindahnya Kadipaten Pesantenan dari Desa Kemiri ke Desa Kaborongan dan menjadi Kabupaten Pati itu pada bulan Juli dan Agustus 1323 M (Masehi). Ada tiga tanggal yang baik pada bulan Juli dan Agustus 1323 yaitu : 3 Juli, 7 Agustus dan 14 Agustus 1323. Hari Jadi Pati Kemudian diadakan seminar pada tanggal 28 September 1993 di Pendopo Kabupaten Pati yang dihadiri oleh para perwakilan lapisan masyarakat Kabupaten Pati, para guru sejarah SMA se Kabupaten Pati, Konsultan, Dosen Fakultas Sastra dan Sejarah UNDIP Semarang, secara musyawarah dan sepakat memutuskan bahwa pada tanggal 7 Agustus 1323 sebagai hari kepindahan Kadipaten Pesantenan di Desa Kemiri ke Desa Kaborongan menjadi Kabupaten Pati. Tanggai 7 Agustus 1323 sebagai HARI JADI KABUPATEN PATI telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor : 2/1994 tanggal 31 Mei 1994, sehingga menjadi momentum Hari Jadi Kabupaten Pati dengan surya sengkala ” KRIDANE PANEMBAH GEBYARING BUMI ” yang bermakna ” Dengan bekerja keras dan penuh do’a kita gali Bumi Pati untuk meningkatkan kesejahteraan lahiriah dan batiniah “. Untuk itu maka setiap tanggal 7 Agustus 1323 yang ditetapkan dan diperingati sebagai “Hari Jadi Kabupaten Pati”. Geografi Sebagian besar wilayah Kabupaten Pati adalah dataran rendah. Bagian selatan (perbatasan dengan Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Blora) terdapat rangkaian Pegunungan Kapur Utara. Bagian barat laut (perbatasan dengan Kabupaten Kudus dan Kabupaten Jepara) berupa perbukitan. Sungai terbesar adalah Sungai Juwana, yang bermuara di daerah Juwana. Ibukota Kabupaten Pati terletak tengah-tengah wilayah Kabupaten, berada di jalur pantura Semarang-Surabaya, sekitar 75 km sebelah timur Semarang. Jalur ini merupakan jalur ramai yang menunjukkan diri sebagai jalur transit. Kelemahan terbesar dari jalur ini adalah kecilnya jalan, hanya memuat dua jalur, sehingga untuk berpapasan cukup sulit. Terdapat sungai besar yaitu Sungai Juwana. Saat musim penghujan sudah terbiasa sungai ini meluap, sehingga pemerintah Jawa Tengah membentuk lembaga yang berfungsi menanggulangi banjir yang bernama Jatrunseluna. Pembagian administratif Kabupaten Pati terdiri atas 21 kecamatan, yang dibagi lagi atas 400 desa dan 5 kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Pati. Kota-kota kecamatan lainnya yang cukup signifikan adalah Juwana dan Tayu, keduanya merupakan kota pelabuhan yang berada di pesisir Laut Jawa, juga Kecamatan Winong. Slogan: Pati Bumi Mina Tani. Diharapkan Pati menjadi daerah sentra perikanan dan pertanian di Indonesia. Tokoh-tokoh dari Pati KH. Sahal Mahfudz Bp Soelaiman Dwijosoekarto atau Mbah Leman. Beliau adalah Pencipta lambang daerah kabupaten Pati KH. Abdullah Salam Hj. Fatimatuzzahro Ismail Saleh Sukawi Sutarip Kwik Kian Gie M. Soegijono atau pak Giek, yang mendirikan SMP Rondole ditahun 1943, lalu ganti nama menjadi SMP N 1 Pati. KH.Muhammad Yuda Drs. H. Imam Suroso, MM ( Pengusaha, Politikus ) Anis Sholeh Ba’asyin (Budayawan) H. Muhammad Zuhri (Budayawan) Pariwisata Mesjid Pati di tahun 1930-an Air Terjun Tadah Hujan Pintu masuk kolam renang dan kolam pemancingan wisata Alam Air Terjun Santi, di Desa Winong Air Terjun Grenjengan Sewu, di Desa Jrahi Air Terjun Tadah Hujan, di Desa Talun Gua Wareh, di Desa Ngarus Gua Pancur, di Desa Panjunan Waduk Gunung Rowo, di Desa Kajen Waduk Seloromo, di Desa Ngarus Wisata Sejarah Masjid Agung Pati, di Desa Ngarus Pintu Gerbang Majapahit, di Desa Panjunan Wisata Keluarga Sendang Tirta Marta Sani, di Desa Panjunan Perairan budidaya ikan air tawar, di Desa Talun Wisata Religi Makam Mbah Tabek Merto, di Desa Kajen Makam Saridin (Syeh Jangkung), di Desa Kajen Makam Mbah Ahmad Mutamakkin dan Mbah Ronggo Kusumo, di Desa Kajen Rupa-Rupa Makanan Khas Makanan khas kabupaten Pati, yaitu: Nasi Gandul Soto Kemiri Bandeng Presto Juwana Petis Runting Minuman Minuman khas kabupaten Pati, yaitu: Wedang Coro Oleh-Oleh Oleh-oleh khas kabupaten Pati, yaitu: Kerupuk Daging Kerupuk Ampo Potensi Selain terkenal dengan Bandeng Prestonya, Pati adalah salah satu dari dua kabupaten penghasil buah Manggis terbesar di Jawa Tengah selain Cilacap. Sentra Buah Jambu monyet, di Desa Margorejo Sentra Buah Manggis, di Desa Gunungsari Kerajinan Kuningan, di Desa Juwana Usaha Penggemukan Sapi, di Desa … Usaha Susu Sapi, di Desa Sukoharjo Industri Garam, di Kecamatan Batangan Industri Gula, di Desa Pakis Tentang Pati Kota Pati dikenal dengan sebutan Kota Pensiunan, karena kotanya sebagian dihuni oleh para pesiunan atau purnawirawan yang lahir atau dibesarkan di kota ini, sedang para pemudanya memilih mencari kerja di tempat lain atau merantau ke luar negeri sebagai TKI/TKW, karena minimnya industri di kota ini.

PERENIALISME DALAM PENDIDIKAN

 

PERENIALISME DALAM PENDIDIKAN

Tugas ini disusun guna memenuhi tugas matakuliah Filsafat Pendidikan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

Ahmad Khoiruddin

 

 

 

 

 

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA 2012

 

 

 

 

  1. I.         PENDAHULUAN

Di zaman modern ini, banyak bermunculan krisis di berbagai bidang kehidupan manusia, terutama di bidang pendidikan. Dan sebagai manusia yang mempunyai akal pikiran kita dituntut untuk mampu memecahkan berbagai problematika kehidupan ini, baik problematika yang berupa krisis seperti saat ini ataupun problematika untuk menjawab tantangan di masa yang akan datang.

Dan berbagai teoripun bermunculan, sebagai jawaban dari manusia dalam memecahkan berbagai problem atau krisis yang kompleks ini terlebih krisis dalam dunia pendidikan. Seperti teori yang diungkapkan oleh para penganut aliran filsafat perenialisme, yang mana menurut mereka perenialisme memberikan jalan keluar dan dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya.

Lantas apa sebenarnya perenialisme itu sendiri? Apa yang melatar belakangi munculnya aliran ini? Bagaimana pandangan ontologi, epistimologi, dan aksiologi perenialisme? Serta bagaimana pandangan perenialisme sendiri terhadap pendidikan?

Pertanyaan-pertanyaan di atas akan kami coba bahas dalam makalah kami yang berjudul “Perenialisme Dalam Pendidikan” ini. semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. II.      PEMBAHASAN
    1. A.     Aliran Perenialisme

Menurut Ali Saifullah, aliran perenialisme termasuk dalam kategori filsafat pendidikan akademis-skolastik. Kategori ini meliputi dua kelompok yakni aliran perenialisme sendiri, essensialisme, idealisme dan realisme, dan kelompok progressif meliputi progresivisme, rekonstruksionisme dan eksistensialisme.

Perenialisme diambil dari kata perennial, yang diartikan sebagai continuing throughout the whole year atau lasting for a very long time, yang bermakna abadi atau kekal. Dari makna tersebut mempunyai maksud bahwa Perenialisme mengandung kepercayaan filsafat yang berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang bersifat kekal dan abadi.[1]

Aliran perenialisme menurut Zuhairini sebagaimana dikutip Abdul Khobir dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, menganggap bahwa zaman modern adalah zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kekacauan, kebingungan sehingga banyak menimbulkan krisis di segala bidang kehidupan manusia. Untuk menghadapi situasi krisis itu, perenialisme memberikan pemecahan dengan jalan regressive road to culture, yaitu jalan kembali atau mundur kepada kebudayaan lama (masa lampau), kebudayaan yang dianggap ideal dan telah teruji ketangguhannya. Disinilah pendidikan mempunyai peranan yang penting dalam rangka mengembalikan keadaan manusia modern kepada kebudayaan masa lampau yang ideal tersebut.

 

  1. B.      Latar Belakang Munculnya Aliran Perenialisme

Teori kependidikan kalangan perenialis mencuat sebagai sebuah pemikiran formal (resmi) pada dekade 1930-an sebagai bentuk reaksi terhadap kalangan progresif. Perenialisme modern secara umum menampilkan sebuah penolakan besar-besaran terhadap cara pandang progresif. Bagi kalangan perenealis, permanensi (keajegan), meskipun pergolakan-pergolakan politik dan sosial yang sangat menonjol, adalah lebih riil (nyata) dari pada konsep perubahan kalangan pragmatis. Dengan demikian kalangan perenialis mempelopori gerakan kembali pada hal-hal absolut dan memfokuskan pada ide-gagasan yang luhur (menyejarah dari budaya manusia), ide-gagasan ini telah terbukti keabsahan dan kegunaannya karena mampu bertahan dari ujian waktu. Perenialisme menekankan arti penting akal budi, nalar, dan karya-karya besar pemikir masa lalu.[2]

Oleh karena itu perenialisme memandang pendidikan adalah sebagai jalan kembali, atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal dimaksud, “education as cultural regression.” Perenialisme tak melihat jalan yang meyakinkan selain kembali kepada prinsip-prinsip yang telah sedemikian membentuk sikap kebiasaan, bahkan kepribadian manusia selain kebudayaan dulu dan kebudayaan abad pertengahan.[3]

 

  1. C.     Pandangan Ontologi Perenialisme

Ontologi perenialisme terdiri dari pengertian-pengertian seperti benda individual, esensi, aksiden dan substansi. Secara ontologis, perenialisme membedakan suatu realita dalam aspek-aspek perwujudannya. Benda individual di sini adalah benda sebagaimana yang tampak di hadapan manusia dan yang ditangkap dengan panca indra seperti batu, lembu, rumput, orang dalam bentuk, ukuran, warna, dan aktivitas tertentu. Esensi dari suatu kualitas menjadikan suatu benda itu lebih intrinsik daripada fisiknya, seperti manusia yang ditinjau dari esensinya adalah makhluk berpikir. Sedangkan aksiden adalah keadaan-keadaan khusus yang dapat berubah-ubah dan sifatnya kurang penting dibandingkan dengan esensial.

Dengan demikian, segala yang ada di alam semesta ini, seperti manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan, merupakan hal yang logis dalam karakternya. Setiap sesuatu yang ada tidak hanya merupakan kombinasi antara zat atau benda, tapi juga merupakan unsur potensialitas dengan bentuk yang merupakan unsur aktualitas.

Sejalan dengan apa yang dikatakan Poedjawijatna, bahwa esensi dari kenyataan itu adalah menuju ke arah aktualitas, sehingga makin lama makin jauh dari potensialitasnya. Bila dihubungkan dengan manusia, maka manusia itu setiap waktu adalah potensialitas yang sedang berubah menjadi aktualitas. Dengan peningkatan suasana hidup spiritual ini, manusia dapat makin mendekatkan diri menuju tujuan (teleologis) untuk mendekatkan diri pada supernatural (Tuhan) yang merupakan pencipta dan tujuan akhir.

 

  1. D.     Pandangan Epistemologis Perenialisme

Perenialisme berpangkal pada tiga istilah yang menjadi asas di dalam epistemologi yaitu truth, self evidence, dan reasoning. Bagi perenialisme truth adalah prasyarat asas tahu untuk mengerti atau memahami arti realita semesta raya. Sedangkan , self evidence adalah suatu bukti yang ada pada diri (realita, eksistensi) itu sendiri, jadi bukti itu tidak pada materi atau realita yang lain. Dan pengertian kita tentang kebenaran hanya mungkin di atas hukum berpikir (reasoning), sebab pengertian logis misalnya berasal dari hukum-hukum berpikir.

Dalam pandangan Perenialisme ada hubungan antara ilmu pengetahuan dengan filsafat, seraya menyadari adanya perbedaan antara kedua bidang tersebut. Hubungan filsafat dan pengetahuan tetap diakui urgensinya, sebab analisa-empiris dan analisa ontologis keduanya dianggap Perenialisme dapat komplementatif. Dan meskipun ilmu dan filsafat berkembang ke tingkat yang makin sempurna, namun tetap diakui bahwa fisafat lebih tinggi kedudukannya daripada ilmu pengetahuan.[4]

 

 

  1. E.      Pandangan Aksiologi Perenialisme

Masalah nilai merupakan hal yang utama dalam Perenialisme, karena ia berdasarkan pada asas-asas supernatural yaitu menerima universal yang abadi, khususnya tingkah laku manusia. Jadi, hakikat manusia itu yang pertama-tama adalah jiwanya. Oleh karena itu, hakikat manusia itu juga menentukan hakikat perbuatannya, dan persoalan nilai adalah persoalan spiritual. Dalam aksiologi, prinsip pikiran demikian bertahan dan tetap berlaku. Secara etika, tindakan itulah yang bersesuaian dengan sifat rasional manusia, karena manusia itu secara alamiah condong pada kebaikan.

Menurut Plato, manusia secara kodrat memiliki tiga potensi: nafsu, kemauan, dan pikiran. Maka pendidikan hendaknya berorientasi pada ketiga potensi tersebut dan pada masyarakat, agar kebutuhan yang ada pada setiap lapisan masyarakat bisa terpenuhi. Dengan demikian, hendaknya pendidikan disesuaikan dengan keadaan manusia yang mempunyai nafsu, kemauan, dan pikiran. Dengan memperhatikan hal ini, maka pendidikan yang berorientasi pada potensi dan masyarakat akan dapat terpenuhi.[5]

 

  1. F.      Pandangan Perenialisme Tentang Belajar

Tuntutan tertinggi dalam belajar menurut Perenialisme, adalah latihan dan disiplin mental. Maka, teori dan praktik pendidikan haruslah mengarah kepada tuntutan tersebut.[6] Teori dasar dalam belajar menurut Perenialisme terutama:

  1. Mental dicipline sebagai teori dasar.

Menurut Perenialisme latihan dan pembinaan berfikir (mental dicipline) adalah salah satu kewajiban tertinggi dalam belajar. Karena program yang diadakan dalam lembaga pendidikan adalah untuk pembinaan berpikir.[7]

  1. Rasionalitas dan Asas Kemerdekaan.

Asas berpikir dan kemerdekaan harus menjadi tujuan utama pendidikan, otoritas berpikir harus disempurnakan sesempurna mungkin. Kemerdekaan pendidikan hendaknya membantu manusia untuk menjadi dirinya sendiri (essential self)yang membedakannya dari makhluk yang lain.

  1. Learning to Reasson (Belajar untuk berpikir).

Perlu adanya penanaman pembiasaan pada diri anak sejak dini dengan kecakapan membaca, menulis, dan berhitung. Dari sini, belajar untuk berpikir menjadi tujuan pokok sekolah menengah dan universitas.

Learning to Reasson (Belajar untuk berpikir)Sekolah bukanlah merupakan situasi kehidupan yang nyata. Sekolah bagi anak merupakan peraturan-peraturan dimana ia bersentuhan dengan hasil yang terbaik dari warisan sosial budaya.

  1. Learning through teaching (Belajar melalui pengajaran).

Fungsi guru menurut Perenialisme berbeda dengan essensialisme. Menurut essensialisme guru sebagai perantara antara bahan dengan anak yang melakukan proses penyerapan. Dalam pandangan Perenialisme, tugas guru bukanlah perantara antara dunia dengan jiwa anak, melainkan guru juga sebagai murid yang mengalami proses belajar mengajar.[8]

 

  1. G.    Pandangan Perenialisme Mengenai Pendidikan

Pendidikan menurut  filsafat ini mesti membangun sejumlah mata pelajaran yang umum, bukan spesialis, liberal bukan vokasionalis, yang humanistik bukan teknikal. Dengan cara inilah pendidikan akan memenuhi fungsi humanistiknya, yakni pembelajaran secara umum yang mesti dimiliki oleh manusia.[9]

Dan sebagai filsafat pendidikan umumnya, filsafat pendidikan Perenialisme juga mempengaruhi sekolah-sekolah modern sekarang, dimana pandangan-pandangan kurikulumnya mempengaruhi praktik pendidikan.

  1. Pendidikan Dasar dan (Sekolah) Menengah
    1. Pendidikan sebagai persiapan

Perbedaan Progresivisme dengan Perenialisme terutama pada sikapnya tentang “education as preparation”. Perenialisme berpendapat bahwa pendidikan adalah persiapan bagi kehidupan di masyarakat. Dasar pandangan ini berpangkal pada ontologi, bahwa anak ada dalam fase potensialitas menuju aktualitas, menuju kematangan.

  1. Kurikulum Sekolah Menengah

Prinsip kurikulum pendidikan dasar, bahwa pendidikan sebagai persiapan, berlaku pula bagi pendidikan menengah. Perenialisme membedakan kurikulum pendidikan menengah antara program, “general education” dan pendidikan kejuruan, yang terbuka bagi anak 12-20 tahun.[10]

  1. Pendidikan Tinggi dan Adult Education
    1. Kurikulum Universitas

Program “General Education” dipersiapkan untuk pendidikaan tinggi dan adult education. Pendidikan tinggi sebagai lanjutan pendidikan menengah dengan program general education yang telah selesai disiapkan, bagi umur 21 tahun sebab dianggap telah cukup mempunyai kemampuan melaksanakan program pendidikan tinggi

  1. Kurikulum Pendidikan Orang Dewasa (Adult Education)

Tujuan pendidikan orang dewasa adalah meningkatkan pengetahuan yang telah dimilikinya dalam pendidikan lama sebelum itu, menetralisir pengaruh-pengaruh jelek yang ada. Nilai utama pendidikan orang dewasa secara filosofis ialah mengembangkan sikap bijaksana guna mereorganisasi pendidikan anak-anaknya, dan membina kebudayaannya.[11]

 

 

 

  1. III.   KESIMPULAN

 

                 Dari pembahasan di atas maka dapat kami simpulkan bahwa aliran Perenialisme adalah merupakan aliran dalam filsafat pendidikan yang memandang bahwa kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar pendidikan sekarang.

Dan pandangan aliran ini tentang pendidikan adalah “belajar untuk berpikir”. Oleh sebab itu, peserta didik harus dibiasakan untuk berlatih berpikir sejak dini.

Perenialisme juga memiliki formula mengenai jenjang pendidikan beserta kurikulum, yaitu pendidikan dasar dan (sekolah) menengah, pendidikan tinggi dan adult education.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdul Khobir.  2009.  Filsafat Pendidikan Islam. Pekalongan: STAIN Press.

Alwasilah, Chaedar. 2008. Filsafat: Bahasa Dan Pendidikan. Bandung: Rosda Karya.

Barnadib, Imam. 1997. Filsafat Pendidikan: Sistem dan Metode. Yogyakarta: ANDI OFFSET.

 

Jalaluddin dan Abdullah Idi. 2007.  Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

 


[1] Abdul Khobir, M. Ag. Filsafat Pendidikan Islam, (Pekalongan: STAIN Press 2009), hal. 62.

[2] George R. Knight, Issues and Alternatives in Educational Philosophy, Mahmud Arif (Penj.), (Yogyakarta: Gama Media, 2007), hal.165.

[3]Opcit. hal. 63.

[4] Abdul Khobir, M. Ag. Filsafat Pendidikan Islam, hal.65.

[5] Jalaluddin dan Abdullah Idi, Filsafat Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media), hal. 117.

[6] Prof. Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan: Sistem dan Metode, (Yogyakarta: ANDI OFFSET), hal. 76

[7] Abdul Khobir, M. Ag. Filsafat Pendidikan Islam, hal. 66

[8]Ibid, hal. 67.

[9] Prof. Chaedar Alwasilah, Filsafat: Bahasa Dan Pendidikan, (Bandung: Rosda Karya) hal. 104

[10] Abdul Khobir, M. Ag. Filsafat Pendidikan Islam, hal.68

[11] Ibid, hal. 69

PENTINGNYA KURIKULUM BAGI SATUAN PENDIDIKAN

 

 

PENTINGNYA KURIKULUM BAGI SATUAN PENDIDIKAN

Tugas ini dibuat guna memenuhi tugas matakuliah Pengembangan Kurikulum

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun oleh:

Ahmad Khoiruddin

 

 

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA

2012

 

BAB I: PENDAHULUAN.

Latar Belakang

Dalam dunia pendidikan, salah satu kunci untuk menentukan kualitas lulusan adalah kurikulum pendidikannya. Karena pentingnya maka setiap kurun waktu tertentu kurikulum selalu dievaluasi untuk kemudian disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi dan kebutuhan masyarakat. Kementrian Pendidikan Nasional juga secara teratur melakukan evaluasi terhadap peraturan yang berkait dengan kurikulum. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi, pengetahuan dan metode belajar semakin lama semakin maju pesat. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang begitu pesat. Begitu pun pola pembiayaan pendidikan serta kondisi sosial, termasuk perubahan pada tuntutan profesi serta kebutuhan dan keinginan pelanggan. Semua itu ikut memberikan dorongan bagi penyelenggara pendidikan untuk selalu melakukan proses perbaikan, modifikasi, dan evaluasi pada kurikulum yang digunakan.

Pada beberapa tahun belakangan ini, kita sering mendengar dan membaca tentang KTSP. KTSP adalah singkatan dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum ini merupakan penyempurnaan dari beberapa kurikulum yang telah diterapkan sebelumnya. Kurikulum ini menitikberatkan pada kemampuan sebuah badan pendidikan untuk mampu mengelola badan tersebut secara mandiri dan sesuai dengan kepentingan yang berlaku di sekitar badan tersebut. Kurikulum ini sangat penting untuk diterapkan secara menyeluruh, agar sebuah badan pendidikan mampu menghasilkan produk pendidikan yang kompeten dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Adapun tujuan penulisan yang mmenjadi tujuan dari ppenulisan makalah ini, antara lain:

  1. Untuk memberikan sumbangsih pemikiran bagi setiap praktisi pendidikan bahwa kurikulum sangat dibutuhkan dalam pencapaian tugas pendidikan.
  2. Untuk memberikan pemahaman akan pentingnya kurikulum untuk menyusun kurikulum bagi para guru-guru.

Rumusan makalah

1. Apa defenisi dari Kurikulum?

2. Apa defenisi dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan?

3. Apa manfaat penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan?

 

 

 

Bab II: Pembahasan

  1. Pengertian Kurikulum

Secara etimologis kurikulum bersifat dari kata curere yang berarti lari cepat,tergesa-gesa. Currere dikata bendakan menjadi kurrikulum berarti perjalanan, peredaran, dan gerakan berkeliling lamanya. Pengertian umumnya kurikulum adalah suatu alat atau jembatan untuk mencapai tujuan .secara tradisional. Menurut William.B.Ragan mengemukakan bahwa “a Tradionally, the curriculum has meant the subject taught in school, or course of study”.[1]

Selanjutnya, dalam pandangan modern, pengertian kurikulum lebih dianggap sebagai suatu pengalaman atau sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan, seperti dikemukakan oleh Caswel dan Campbell (1935) yang mengatakan bahwa kurikulum itu ”…to be composed of all the experiences children have under the guidance of teachers”. Kemudian, defenisi ini dipertegas lagi oleh pemikiran Ronald C. Doll (1974) yang mengatakan bahwa : “ …the curriculum has changed from content of courses study and list of subject and courses to all experiences which are offered to learners under the auspices or direction of school”.

Sementara itu, Purwadi (2003) memilah defenisi kurikulum itu menjadi enam
bagian :

1. kurikulum sebagai ide;

2. kurikulum formal berupa dokumen yang dijadikan sebagai pedoman dan panduan dalam melaksanakan kurikulum;

3. kurikulum menurut persepsi pengajar;

4. kurikulum operasional yang dilaksanakan atau dioprasional kan oleh pengajar di kelas;

5. kurikulum experience yakni kurikulum yang dialami oleh peserta didik;

6. kurikulum yang diperoleh dari penerapan kurikulum.

Selanjutnya, di dalam pandangan kebijakan Pendidikan Nasional sebagaimana dapat dilihat dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa: “Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.

  1. Definisi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan di Indonesia. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun ajaran 2007/2008 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP.[2]

Pada prinsipnya, KTSP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari standar isi, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai dengan kebutuhan sekolah itu sendiri. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.

  1. Fungsi Kurikulum

Alexander Inglis dalam bukunya Principle of Secondary Education (1918) menyatakan bahwa fungsi kurikulum adalah :

  1. Fungsi penyesuaian: individu hidup dalam lingkungan. Setiap individu harusmampu menyesuaikan dirinya terhadap lingkungannya secara menyeluruh. Oleh karenalingkungannya sendiri senantiasa berubah, bersifat dinamis, maka individu pun harus memiliki kemampuan menyesuaikan diri secara dinamis pula, dan ini sesauai kondisi perorangan.
  2. fungsi integrasi: kurikulum berfungsi mendidik pribadi yang terintigrasi. Oleh karena individu itu sendiri merupakan bagi integral dari masyarakat.
  3. fungsi deferensiasi: kurikulum perlu memberikan layanan terhadap perbedaan perorangan dalam masyarakat, dan hal ini dapat membuat orang berpikir kritis dan kreatif.dan ini mendorong kemajuan sosial dalam masyarakat.
  4. fungsi persiapan: kurikulum berfungsi mempersiapkan siswa agar mampu melanjutkan studi lebih lanjut untuk suatu jangkauan yang lebih jauh, apakah melanjutkankesekolah yang lebih tinggi atau persiapan untuk belajar didalam masyarakat seanadainya dia tidak mungkin melanjutkan.
  5. Fungsi pemilihan: anatara keperbedaan dengan pemilihan adalah dua hal yang erat sekali hubungannya. Pengakuan atas perbedaan berarti pula diberikannya kesempatan bagi seseorang untuk memilih apa yang diinginkannya dan menarik minatnya. Kedua hal tersebut merupakan kebutuhan bagi masyarakat yang menganut sistem demokrasi. Untuk mengembangkan kemampuan tersebut maka kurikulum perlu disusun secaraluas berarti fleksibel atau luwes.
  6. Fungsi diagnostik: salah satu segi pelayanan pendidikan ialah membantu mengarahkan para siswa agar mereka mampu dan mengarahkan para siswa agar mereka mampu memahami dan menerima dirinya sehingga dapat mengembangkan semua potensi yang dimilikinya. Ini dapat dilakukan apabila mereka dapat menyadari semua kelemahan dan kekuatan yang dimilikinya melalui eksplorasi dan pronosa, sehingga selanjutnya dia sendiri yang memperbaiki kelemahan itu dan mengembangkan sendiri kekuatanyang ada.[3]

Fungsi-fungsi tersebut dilaksanakan oleh kurikulum secara keseluruhan.Fungsi-fungsi itu memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan para siswa sejalan dengan arah dari filsafat pendidikan dari tujuan pendidikan yang diharapkan oleh institusi pendidikan yang bersangkutan.

  1. Manfaat penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Manfaat Kurikulum Dalam Tingkat Satuan Pendidikan Bagi Sekolah. Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam penyelenggaraan pendidikan. KTSPmemberikan otonomi luas kepada sekolah dan satuan pendidikan, disertai seperangkat tanggung jawab untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah setempatKTSP memberi peluang yang lebih luas kepada sekolah dan untuk mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan. Pola kurikulum baru pada KTSP adalah memberi kebebasan kepada sekolah untuk menyusun kurikulumnya sendiri, KTSP ini memberi peluang pada sekolah-sekolah plus untuk lebih mengambangkan variasi kurikulum yang ditetapkan pemerintah.[4]

Dengan adanya KTSP maka sekolah bisa lebih bebas untuk menentukan kurikulumnya yang sesuai dengan kebutuhan sekolah tersebut. Dalam KTSP kebijakan pengembangan kurikulum dan pembelajaran beserta sistem evaluasinya didesentralisasikan ke sekolah dan satuan pendidikan, sehingga pengembangan kurikulum diharapkan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan masyarakat secara lebih fleksibel.

KTSP memungkinkan sekolah menitik beratkan pada mata pelajaran tertentu yang dianggap paling dibutuhkan siswa, sebagai contoh sekolah yang berada di kawasan pariwisata dapat lebih memfokuskan pada mata pelajaran bahasa Inggris atau mata pelajaran dibidang kepariwisataan lainya, disini guru harus melibatkan peserta didik untuk mengenal, menyatakan dan merumuskan kebutuhan belajar. Dalam bukunya E. Mulyasa menyatakan bahwa ” tujuan identifikasi kebutuhan adalah untuk melibatkan dan memotivikasi peserta didik agar kegiatan belajar dirasakan oleh merek ebagai bagian dari kehidupannya dan mereka merasa memilikinya.” Sehingga apabila murid sudah mengetahui kebutuhan belajarnya, maka suasana belajarnya akan lebih aktif serta mereka akan merasa lebih nyaman.[5]

Keunggulan KTSP, di antaranya adalah memberikan keleluasaan kepada guru dan sekolah untuk membuat kurikulum sendiri yang disesuaikan dengan keadaan siswa, keadaan sekolah, dan keadaan lingkungan. Sekolah bersama dengan komite sekolah dapat bersama-sama merumuskan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan, situasi, dan kondisi lingkungan sekolah. Sekolah dapat bermitra dengan stakeholder pendidikan, misalnya, dunia industri, kerajinan, pariwisata, petani, nelayan, organisasi profesi, dan sebagainya agar kurikulum yang dibuat oleh sekolah benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Melalui KTSP kiranya perbedaan guru dengan dosen mulai dikurangi sedikit demi sedikit. Satu hal yang mulai ada kesamaan adalah tentang keleluasaan dalam menyusun kurikulum, guru dan dosen sama-sama memiliki otonomi. Dengan adanya otonomi guru, kreativitas guru akan muncul karena guru dapat menjadi konseptor-konseptor yang siap melahirkan berbagai pemikiran yang berkaitan dengan kurikulum dan kemajuan siswa.

 

 

 

 

 

 

BAB III PENUTUPAN

KESIMPULAN

Dengan makalah ini, penulis memberi kesimpulan bahwa pentingnya kurikulum dalamsuatu pendidkan itu dangat penting karena dengan adanya kurikulum dalam pendidikan tujuan yang akan dicapai dalam pendidikan akan terlaksana sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, karena peranan kurikulum itu mencangkup seluruh kegiatan dalam pendidikan baik dalam proses pembelajaran mapupub seluruh program pendidikan. Kurikulum membantu untuk dapat mengetahui persoalan yang ada dalam pendidikan.

Dengan adanya tujuan pendidikan dapat dijabarkan dari tujuan tertinggi yaitu tujuan yang akan dicapai yang disebut tujuan pendidikan nasional. Kurikulum sebagai program pendidikan yang telah direncanakan secara sistematis mengemban perananyang sangat penting bagi pendidikan para siswa. Fungsi-fungsi itu memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan para siswa.Dalam rangka menunjang implementasikan kurikulum berbasis kompetensi, maka diharapkan sekolah (kepala sekolah dan guru) dapat menciptakan lingkungan yang kondusif dalam proses belajar mengajar di kelas.

 

DAFTAR PUSTAKA

Mulyasa, E. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Sanjaya. 2006.

Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Yang Disempurnakan, Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia

Sanjaya. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group 2006).

http://ajisaka.sosblog.com/Ajis-b1/PRINSIP-DASAR-PENGEMBANGAN-KTSP-b1-p21.htm diunduh pada tanggal 2 april 2012 pada pukul 18.00 WIB

http://www.scribd.com/doc/49829486/2-PENGEMBANGAN-DAN-IMPLEMENTASI-KTSP diunduh pada tanggal 2 april 2012 pada pukul 18.00 WIB


[1] Sanjaya. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group 2006).

[2] Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Yang Disempurnakan, Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia

[3] http://www.scribd.com/doc/49829486/2-PENGEMBANGAN-DAN-IMPLEMENTASI-KTSP diunduh pada tanggal 2 april 2012 pada pukul 18.00 WIB

[4] Mulyasa, E. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2007).

[5] http://ajisaka.sosblog.com/Ajis-b1/PRINSIP-DASAR-PENGEMBANGAN-KTSP-b1-p21.htm diunduh pada tanggal 2 april 2012 pada pukul 18.00 WIB

 

Para Ahli Waris

Kita urutkan dari yang terdekat dan langsung berhubungan dengan muwarits…

1. anak laki-laki bagiannya (Asabah (sisa harta) dan mendapat 2 kali bagian anak perempuan).

2.anak perempuan bagiannya ( 1/2 = menjadi satu-satunya anak almarhum  2/3 = dua orang atau lebih dan almarhum tak ada anak laki

ashabah = almarhum punya anak lak-laki dengan ketentuan bagiannya 1/2 dari bagian anak laki-laki).

3. Istri bagiannya yaitu 1/4 atau 1/8 sebagaimana disebutkan di dalam ayat 11 surat A-Nisa’, 1/4 apabila muwarits tidak punya fara waris.

1/8 apabila muwarits punya fara waris.

4. Seorang suami punya dua kemungkinan bagian, yaitu 1/2 atau 1/4 sebagaimana disebutkan di dalam ayat 11suratA-Nisa’. keterangan sama dengan kasus di atas.

5.  Seorang ayah yang ditinggal mati oleh anaknya, baik anak itu laki-laki atau perempuan, termasuk orang yang berhak mendapatkan warisan. Tentu saja syaratnya adalah ayah masih hidup saat sang anak meninggal dunia. Kalau ayah sudah meninggal dunia terlebih dahulu, tidak menjadi ahli waris. ada tiga kemungkinan ayah mendapatkan harta waris.

# 1/6 = almarhum punya fara’ waris laki-laki

    # 1/6 + sisa = almarhum punya fara’ waris wanita, tidak punya fara’ waris laki-laki

     # Ashabah = almarhum tidak punya fara’ waris

6. Ibu adalah orang yang juga dekat dengan anaknya yang meninggal dunia. Bila saat meninggalnya, ibu masih ada, sudah dipastikan ibu mendapat warisan. Seorang ibu punya tiga macam kemungkinan dalam menerima hak warisnya.

   # 1/6 = almarhum punya fara’ waris

   # 1/3 = almarhum tidak punya fara’ waris

7. Kakek, Yang dimaksud dengan kakek disini adalah ayahnya ayah. Seorang kakek yang ditinggal mati oleh cucunya, baik cucu itu laki-laki atau perempuan, termasuk orang yang berhak mendapatkan warisan.

Syaratnya adalah ayah anak itu sudah meninggal dunia saat si cucu meninggal dunia. Kalau ayah anak itu masih hidup, maka kakek (ayahnya ayah) terhijab, sehingga kita tidak bicara tentang warisan buat kakek. seorang kakek punya tiga macam kemungkinan dalam menerima warisannya.

    #1/6 = almarhum punya fara’ waris laki-laki

     #1/6 + sisa = almarhum punya fara’ waris wanita, tidak punya fara’ waris laki-laki

     #Ashabah = almarhum tidak punya fara’ waris

8. Nenek, Yang dimaksud dengan nenek disini adalah ibu dari ayahnya almarhum. Dalam hal ini nenek hanya punya satu kemungkinan dalam mendapat bagian warisnya, yaitu 1/6. Syaratnya, almarhum tidak punya ibu dan ayah.

9. Saudara seayah ibu

10. saudari seayah ibu

11. saudara seayah (saudara tiri)

12. saudari seayah.

13.  keponakan (anak saudara seayah ibu)

14. keponakan (anak saudara seayah)

15. Paman (saudara seayah ibu)

16. paman (saudara seayah)

17. sepupu.

 

Al-Hujub, Ashabul Furudh dan Ashabah

1. Definisi

Al-hujub dalam bahasa Arab bermakna ‘penghalang’. Adapun pengertian al-hujub menurut kalangan ulama faraid adalah menggugurkan hak ahli waris untuk menerima waris, baik secara keseluruhannya atau sebagian saja disebabkan adanya orang yang lebih berhak untuk menerimanya

2. Macam-macam Al Hujub

Al-hujub terbagi dua, yakni al-hujub bil washfi (sifat/julukan), dan al-hujub bi asy-syakhshi (karena orang lain).

a. Al-hujub bil washfi berarti orang yang terkena hujub tersebut terhalang dari mendapatkan hak waris secara keseluruhan, misalnya orang yang membunuh pewarisnya atau murtad. Hak waris mereka menjadi gugur atau terhalang.

b. Sedangkan al-hujub bi asy-syakhshi yaitu gugurnya hak waris seseorang dikarenakan adanya orang lain yang lebih berhak untuk menerimanya. Al-hujub bi asy-syakhshi terbagi dua: hujub hirman dan hujub nuQShan. Hujub hirman yaitu penghalang yang menggugurkan seluruh hak waris seseorang.

3. Ahli waris yang tidak terjena hujub

> Anak kandung laki-laki, anak kandung perempuan, ayah, ibu, suami dan istri

> Sedangkan ada enam belas orang yang dapat terkena hujub diantaranya sebelas laki-laki dan lima dari pihak perempuan.

# Ashabul furudh

Ashabul furudh adalah para ahli waris yang nilai haknya telah ditetapkan secara langsung dan mendapatkan harta waris terlebih dahulu, sebelum para ashabah.

Jumlah bagian yang telah ditentukan Al-Qur’an ada enam macam, yaitu :

  • setengah (1/2)
  • seperempat (1/4)
  • seperdelapan (1/8)
  • dua per tiga (2/3)
  • sepertiga (1/3)
  • seperenam (1/6).

# Ashabah

1. definisi

Kata ‘ashabab dalam bahasa Arab berarti kerabat seseorang dari pihak bapak

pengertian ‘ashabah menurut istilah para fuqaha ialah : ahli waris yang tidak disebutkan banyaknya bagiannya dengan tegas.

Sebagai contoh, anak laki-laki, cucu laki-laki keturunan anak laki-laki, saudara kandung laki-laki dan saudara laki-laki seayah, dan paman (saudara kandung ayah). Kekerabatan mereka sangat kuat dikarenakan berasal dari pihak ayah.

2. Macam-macam Ashabah

‘Ashabah terbagi dua yaitu: ‘ashabah nasabiyah (karena nasab) dan ‘ashabah sababiyah (karena sebab).

Gugurnya Warisan

1. Hal-hal yang menyebabkan gugurnya warisan

Hal-hal yang bisa menggugur hak waris seseorang ada tiga:

a. Pembunuhan

Apabila seorang ahli waris membunuh pewaris (misalnya seorang anak membunuh ayahnya), maka gugurlah haknya untuk mendapatkan warisan dari ayahnya. Si Anak tidak lagi berhak mendapatkan warisan akibat perbuatannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.:

“Tidaklah seorang pembunuh berhak mewarisi harta orang yang dibunuhnya. ”

b. Perbedaan Agama

Seorang muslim tidak dapat mewarisi ataupun diwarisi oleh orang non muslim, apa pun agamanya. Maka seorang anak tunggal dan menjadi satu-satunya ahli waris dari ayahnya, akan gugur haknya dengan sendiri bila dia tidak beragama Islam.

c.  Budak

Seseorang yang berstatus sebagai budak tidak mempunyai hak untuk mewarisi sekalipun dari saudaranya. Sebab segala sesuatu yang dimiliki budak, secara langsung menjadi milik tuannya. Baik budak itu sebagai qinnun (budak murni), mudabbar (budak yang telah dinyatakan merdeka jika tuannya meninggal), atau mukatab (budak yang telah menjalankan perjanjian pembebasan dengan tuannya, dengan persyaratan yang disepakati kedua belah pihak).

 

Rukun, Syarat dan sebab Waris

1.1 Rukun Waris

Untuk terjadinya sebuah pewarisan harta, maka harus terpenuhi tiga rukun waris. Bila salah satu dari tiga rukun ini tidak terpenuhi, maka tidak terjadi pewarisan.

Ketiga rukun itu adalah al-muwarrits, al-waarist dan al-mauruts.

al-muwarrits: pewaris

al-waarist: ahli waris

al-mauruts: harta warisan

1.2 Syarat waris

Selain rukun, juga ada syarat-syarat yang harus terpenuhi untuk sebuah pewarisan. Bilamana salah satu dari syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, maka tidak terjadi pewarisan. Syarat pewarisan ada tiga:

a. Meninggalnya Muwarrits

b. Hidupnya Ahli Waris

c. Ahli Waris Diketahui

1.3 Sebab Waris

Adatiga sebab yang menjadikan seseorang mendapatkan hak waris:

a. Kerabat hakiki

contohnya: ayah, ibu, anak, saudara, paman yang mempunyai hubungan nasab atau ada pertalian darah.

b. Pernikahan

Yaitu terjadinya akad nikah secara legal (syar’i) antara seorang laki-laki dan perempuan, sekalipun belum atau tidak terjadi hubungan intim (bersanggama) antar keduanya.

c. Al-Wala

Yaitu kekerabatan karena sebab hukum. Disebut juga wala al-‘itqi dan wala an-ni’mah. Yang menjadi penyebab adalah kenikmatan pembebasan budak yang dilakukan seseorang. Maka dalam hal ini orang yang membebaskannya mendapat kenikmatan berupa kekerabatan (ikatan) yang dinamakan wala al-‘itqi.